Setahun Donald Trump dan Enam Grafik Ekonomi AS

February 2018 ยท 3 minute read

Pemerintahan Donald Trump di Gedung Putih telah memasuki usia satu tahun dan mulai saat itu pengusaha eksenterik tersebut berulang kali kerap menggaungkan kebangkitan baru perekonomian Amerika Serikat (AS). Akan tetapi dalam perjalannya, Trump kerap mengeluarkan kebijakan kontroversial dari mulai proteksi perdagangan hingga keputusan keluar dari perjanjian dagang NAFTA.
Bahkan kemarin, kegagalan kompromi di Senat AS mengenai pendanaan operasional pemerintah, berujung pada ‘government shut-down‘ tepat setahun setelah Trump menjadi presiden. Pemerintah Amerika Serikat tutup sebagian pada hari Sabtu (2001) setelah Senat AS gagal mencapai kesepakatan mengenai dana anggaran belanja pemerintah federal.
Tahun Ini, Perekonomian Indonesia Berskala 1 Triliun Dollar AS
Berikut enam grafik yang mengeksplorasi hubungan satu tahun pemerintahan Trump dengan pertumbuhan ekonomi AS, pasar tenaga kerja hingga perdagangan seperti dilansir BBC. Pertama, pertumbuhan ekonomi AS dimana Trump kerap mengungkapkan keinginannya untuk mendongkrak ekonomi Negeri Pakcik Sam -julukan AS- ke level pertumbuhan setinggi 6%.
Bulog Prioritaskan Beras Impor untuk Daerah Defisit Beras
Angka terbaru, yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan AS pada bulan Desember, menunjukkan bahwa tingkat tahunan perurutan berada di angka 3, 2% pada kuartal ke-3 tahun 2017. Namun sehabis Bank Sentral AS alias The Federal Reserve, menaikkan suku bunga untuk ke-3 kalinya pada 2017 di bulan Desember, kemungkinan pertumbuhan akan melambat dalam beberapa bulan mendatang.
Kedua, pasar saham AS atau Wall Street sempat mencetak rekor. Dow Jones Industrial Average yang menaungi saham 30 perusahaan besar AS sudah meningkat ke level tertinggi sepanjang tahun lalu pada periode yang membentang dari Agustus 2016, tepat pra pemilihan Trump. Bursa saham AS lainnya, termasuk indeks Standard & Poor’s 500 dan indeks Nasdaq juga sempat menyentuh titik tertinggi dalam sejarah. Para pendukung pemerintahan AS di lembah kepemimpinan Trump berpendapat bahwa pemotongan pajak perusahaan, yang disahkan sesaat sebelum Natal, membantu meningkatkan saham AMERIKA SERIKAT. Hal itu bersamaan dengan kebijakan proteksi AS serta tidakan kerasnya terhadap birokrasi dan janji-janji investasi infrastruktur.
Ketiga, penurunan tingkat pengangguran AS. Dimana angka pengangguran turun menjadi 4, 1% pada bulan Desember dan mendekati posisi terendah yang pernah tercatat sebesar 3, 9% di tahun 2001. Ini kurang dari setengah dari posisi puncak 10% pada tahun 2010, yang dicapai setelah krisis perekonomian global. Namun, tren penurunan ini dimulai saat Presiden Barack Obama menjabat. Yang mana ketika Obama meninggalkan Gedung Putih, tingkat pengangguran menyusut 4, 8%.
Presiden Jokowi ingatkan bank bukan pelit beri kredit pengusaha kecil
Keempat, bayaran pekerja relatif berada di dalam tren mendatar. Terlepas dari indikator ekonomi positif lainnya, tingkat upah AS bergerak flat sejak Trump menjabat. Pertumbuhan upah stabil antara 2, 5% dan 2, 9% tanpa menunjukkan kenaikan berarti dalam 12 bulan terakhir. Para ekonom mengutarakan pada kenyataannya, masih coba untuk memahami mengapa pengangguran rendah tidak menyebabkan kenaikan upah. Namun, perkiraan umum untuk 2018 adalah bahwa upah akan meningkat jika pengangguran terus turun.
PT RIFANFINANCINDO
Kelima, pekerja belum maksimal terserap. Salah satu penjelasan yang menyebabkan upah stagnan yakni jumlah angkatan kerja AS yang lebih tinggi setelah stagnasi 2007-2009, melampaui perkiraan sebelumnya. Sementara di sisi lain daya serap belum maksimal apabila melihat tingkat pastisipasi angkatan kerja, meski jumlah pengangguran turun.
Keenam, defisit perdagangan meningkat ketika Trump mengklaim memperbaiki perdagangan AS serupa prioritas pemerintahannya. Namun, kekurangan perdagangan negara (ketika impor lebih tinggi dari ekspor) kenyataanya telah meningkat di level yang belum pernah tercatat sejak 2008.
Bagian dari penjelasan untuk defisit tersebut adalah bahwa pertumbuhan ekonomi AS yang terus berlanjut, dan peningkatan kepercayaan konsumen, telah menyebabkan peningkatan barang yang dibeli sama pembeli AS dari pendatang negeri. Namun, neraca perdagangan negatif dapat meningkatkan tekanan pada pemerintahan Trump.
Apalagi ketika Negara Adidaya tersebut sekarang berada di luar kesepakatan perdagangan Trans-Pacific Partnership (TPP) dan di tengah negosiasi ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara ataupun NAFTA.