IEW Pertanyakan Mahalnya Harga BBM di SPBU Asing

March 2018 ยท 3 minute read

“Ada apa ini? Mengapa mereka lebih mahal? Harusnya SPBU asing itu tidak mengabaikan unsur keberpihakan pada masyarakat. Pemerintah wajib memperingatkan mereka,” ujar Adnan di Jakarta, Minggu (252). Dikatakan, harga berbagai jenis BBM di SPBU asing memang lebih tinggi dibandingkan Pertamina. Meski akhir pekan lalu Pertamina baru saja menaikkan harga untuk seri Pertamax, namun tetap harga BBM Pertamina masih di bawah harga SPBU asing, seperti Shell dan Vivo.
Saat ini, paparnya, untuk kelas RON 90, harga Shell Reguler mencapai Rp 8.400/liter dan Revvo 90 keluaran Vivo Rp 8.500/liter. Harga tersebut jauh lebih mahal dibandingkan Pertalite keluaran Pertamina, Rp 7.600/liter. Untuk RON 92, harga Super yang merupakan produk Shell dan Revvo 92 dari Vivo, masing-masing Rp 9.250/liter. Harga keduanya juga lebih mahal dibandingkan Pertamax milik Pertamina, yaitu Rp 8.900.
Sementara untuk kelas di atasnya, V-Power milik Shell yang memiliki RON 95 dipatok Rp 10.450 per liter. Harga tersebut lebih mahal dibandingkan Pertamax Turbo keluaran Pertamina, yaitu Rp 10.100 per liter. Padahal, tingkat oktan Pertamax Turbo lebih tinggi, yaitu 98. Sementara untuk jenis solar, Diesel yang merupakan produk Shell juga lebih mahal dibandingkan Pertamina Dex, yaitu Rp 10.150 per liter berbanding Rp 10.000 per liter.
Pejabat Bank Indonesia Dovish yang Berpengalaman
Tidak hanya terkait kemahalan harga, Adnan juga meminta SPBU asing untuk lebih terbuka saat menaikkan harga. Ia mengatakan, selama ini, SPBU asing terkesan diam-diam jika menaikkan harga. Padahal, tingkat kenaikan yang diambil termasuk cukup tajam. Vivo misalnya, pada saat launching akhir Oktober 2017, mematok harga Revvo 90 sebesar Rp 7.500 per liter dan Revvo 92 sebesar Rp 8.250 per liter.
Dibandingkan harga saat ini, praktis hanya dalam waktu empat bulan, Vivo sudah menaikkan harga kedua produk itu dengan sangat signifikan, masing-masing Rp 1.000 per liter. “Banyak masyarakat tidak menyadari, karena kesannya memang diam-diam. Kalau pun diinformasikan, tidak segencar ketika mereka memulai menjual dengan harga lebih murah. Apa-apaan ini?” kata Adnan.
INDEF dan DPR Ragukan Gebrakan Calon Gubernur BI Perry Warjiyo
Dalam perspektif lain, Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Dadan S. Suharmawijaya justru memberi apresiasi kepada Pertamina, yang masih bisa menjual BBM dengan harga lebih murah. Ini membuktikan, bahwa sebagai BUMN mereka tidak mengabaikan keberpihakan kepada rakyat. Lebih dari itu, meski menjual dengan harga lebih murah, namun Pertamina tidak mengabaikan sisi pelayanan dan kualitas produk yang mereka miliki.
Uji KIR Taksi Online Gratis, Setelah Tuntaskan Program SIM A Umum
“Strategi Pertamina itu harus kita apresiasi. Apalagi, mereka tidak hanya memperhatikan persaingan dari sisi harga, namun juga kualitas produk dan pelayanan. Dan memang harusnya seperti itu. Mereka setiap saat harus memiliki langkah-langkah strategis yang dinamis dalam mengikuti perkembangan pasar,” kata Dadan.
RIFANFINANCINDO - Potensi Besar, Rifan Financindo dan BBJ Gelar Edukasi Pasar
Terkait peningkatan kualitas dan pelayanan, lanjut Dadan, bisa dilihat dari loyalitas konsumen kepada Pertamina, meski SPBU asing mulai berdatangan. “Banyak konsumen yang memperhatikan kualitas dan pelayanan. Saya melihat itu, terutama di SPBU-SPBU yang langsung dikelola Pertamina,” kata dia.
Koordinator Indonesia Energy Watch (IEW) Adnan Rarasina mempertanyakan mahalnya harga BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) asing. Menurut dia, harusnya SPBU asing tetap memperhatikan kepentingan masyarakat, karena energi merupakan kebutuhan pokok sekaligus penggerak roda ekonomi.